Tuhan. Aku tidak tahu apa yang saat ini aku rasakan, cemburu, sakit, sesak, perih, pedih, terhubus pedang, marah, entahlah. Semuanya bercampur menjadi satu.
Satu sayatan yang belum sembuh, tertutup lalu terbuka, kini bertambah sayatan baru yang mengiris cukup dalam sama seperti luka yang belum jua sembuh sebelumnya.
Aku pernah salah, dan akan selalu salah. Apapun itu, aku bersumpah aku tidak pernah benar. Sama sekali tidak pernah benar.
Selasa, 1 Oktober 2024.
Hari ini perjalanan pulang. Malam yang begitu pekat, bukan hanya di luar sana, tetapi di dalam hati juga menyelimutinya. Perih itu kian hari kian terasa pedih. Untuk kali ketiga aku mencoba validasi kegelisahaanku dalam diam. Sembari memandangi wajahmu yang terlelap di sampingku.
Rabu, 2 Oktober 2024.
Sekali lagi aku mencoba memvalidasi, tapi masih sia-sia. Rasa ini semakin hari semakin perih tak tertahankan. Jika ku luapkan, tak ada gunanya. Toh aku ditakdirkan untuk gagal.
Kamis, 3 Oktober 2024.
Aku hilang kendali.
Jumat, 4 Oktober 2024.
Mati rasa
Sabtu, 5 Oktober 2024.
Pedih menyelimuti diri. Alunan melodi penenang bahkan tak mampu menenangkan jiwa yang makin terpuruk. Namun sebisaku tetap seperti biasanya.
Minggu, 6 Oktober 2024.
Pura-pura tersenyum meski hati ini terasa panas. Dinginnya hembusan angin bahkan mengoyak perasaan semakin dalam.
Senin, 7 Oktober 2024.
Entah apa lagi yang kupikirkan. Sepanjang dini hari ini membuatku gelisah. Sakit yang kian tak tertahankan. Apakah salah jika aku cemburu? Aku harus bagaimana? Istriku, aku mencintaimu sungguh mencintaimu.
Posted by
comment 0 Comment
more_vert