Ini kisah tentang kawanku, Sisanto, ia menikahi kekasihnya, Furi-- orang yang paling ia sayangi selain keluarganya sebelum menikah. Di awal-awal pernikahan mereka, Futri dan Sisanto sangat menikmati kehidupan, saling menyayangi satu sama lain. Sampai suatu ketika, dua tahun perjalanan cinta mereka membangun keluarga sederhana nyaris hancur karena masa lalu Futri datang, orang yang sebenarnya Futri sayangi bukanlah Sisanto.
Sebenarnya di tahun pertama mereka menikah sudah ada sedikit perbedaan antara kedua pasangan ini, namun Sisanto lebih memilih untuk abai akan semua itu. Setiap harinya pun tampak normal, secara fisik mereka tampak dekat, namun hati mereka cukup atau bahkan sangat jauh. Tiap malam menjelang tidur, Sisanto tak lagi mendapat pelukan hangat, begitu pula mungkin yang dirasakan Futri. Ada jarak di antara mereka, mungkin penyebabnya adalah Sisanto yang terlalu bodoh, rutinitas membuatnya lupa bahwa Futri butuh hal yang menyenangkan.
Memasuki tahun kedua, rutinitas mereka semakin padat, saat inilah menjadi masa yang paling krusial hubungan mereka. Payaudin datang dan merubah seluruh sikap Futri kepada Sisanto, tak ada lagi pelukan tiap malam, cacian hampir tiap hari, semua yang dilakukan Sisanto selalu salah, bahkan untuk mengintip pesan saja adalah hal yang salah.
Futri cepat mengakui kalau ia sedang berhubungan dengan Payaudin, dan bahkan memastikan anak yang dikandungnya adalah anak hasil hubungan Futri dengan masa lalunya itu.
Sisanto yang terlalu cinta sekali lagi mengabaikan hal itu, meskipun sakit yang ia rasakan dibawa hingga bertahun-tahun. Ia menyibukkan dirinya dengan segudang aktivitas agar bisa melupakan kejadian perselingkuhan Futri itu.
Sampai suatu ketika, Sisanto didatangi seorang perempuan tak tahu diri. Perempuan setan itu merasuki pikiran Sisanto lalu mengajaknya untuk berselingkuh, alih-alih balas dendam agar semuanya lega, Sisanto justru semakin hancur dengan kejadian itu. Sungguh pilihan yang bodoh bin tolol. Salahnya sendiri, mengumbar awal kesakitannya kepada orang lain.
Walhasil kejadian itu memicu istri yang ia sayangi malah semakin depresi berat. Sisanto ingin memperbaiki semuanya, tapi percuma,apapun yang dilakukannya akan tetap sama saja, SALAH!.
Di tahun keempat ini, Sisanto hanya bisa berharap dan terus berusaha agar semuanya bisa kembali seperti semula. Hingga kelak nanti mereka bisa bersenang-senang dan bahagia. Saling mencintai.
---
Belum lama ini Sisanto mendapat pesan emosional dari Futri, menyesali kelahiran anaknya. Kata Futri, harusnya mereka tak menikah, harusnya Futri menunggu Payaudin. Seketika hati Sisanto hancur lebur, ia semakin sadar untuk kesekian kalinya kalau dirinya bukanlah orang yang diharapkan Futri.
Ada satu waktu, Futri menceritakan kepada Sisanto kalau ia sempat mengambil garpu untuk menikam Zaka, anak pertama mereka. Hal serupa kembali terjadi, ia menyuapi Zaka namun yang ada di tangannya seolah itu adalah gunting. Sisanto melihat kalau ini adalah efek penyesalan itu, selain itu pikiran Futri terdistraksi oleh perselingkuhan yang dilakukan Sisanto dengan wanita setan itu.
Sisanto ingin sekali mengatakan kepada Futri, jangan salahkan Zaka, semua ini, sedari awal karena kesalahan dirinya, kenapa jatuh cinta kepada Futri yang sebenarnya tak mencintainya, kenapa melakukan perselingkuhan hanya karena ambisi ingin sembuh, kenapa tidak bisa menjadi seperti Payaudin saja agar Futri mencintainya. Tapi Sisanto tak bisa berkata-kata lagi, ia tak tahu harus berbuat seperti apa. Sebab jika kata ini keluar, maka akan memperparah suasana.
---
Malam ini, Sisanto mencoba memeluk Futri yang sedang terlelap, tapi sama seperti malam-malam dan malam-malam sebelumnya, alam bawah sadar Futri selalu saja menolak kehadiran Sisanto.
Mungkin suatu saat nanti, Sisanto bisa merasakan lagi rasa cinta Futri kepadanya. Mungkin setelah usaha dan perjuangan yang panjang, entah kapan karena Sisanto ini lelaki yang bodoh bin tolol, atau mungkin setelah Sisanto mati.
Namun yang pasti, Sisanto berusaha terus untuk meyakinkan Futri bahwa ia sangat mencintai Futri.
Posted by
comment 0 Comment
more_vert