Kamis, 20 Agustus 2015
![]() |
| Ilustrasi |
Kebanyakan manusia tidak berpikir sebagaimana seharusnya
mereka berpikir dan tidak mengembangkan sarana dan potensi berpikir mereka.
Namun ada satu hal lagi yang penting untuk dijelaskan di sini. Tidak dapat
dipungkiri bahwa hal-hal tertentu selalu terlintas dalam benak manusia setiap
saat sepanjang hidupnya. Hampir tidak ada masa, kecuali ketika tidur, dimana
pikiran manusia benar-benar kosong. Sayangnya, sebagian besar dari pikiran-pikiran
ini tidak berguna, "sia-sia" dan "tidak perlu", sehingga
tidak akan bermanfaat di akherat kelak, tidak menuntun ke arah yang benar dan
tidak mendatangkan kebaikan kepadanya.
Andai kata seseorang berusaha untuk mengingat apa-apa
yang telah dipikirkannya pada suatu hari, lalu mencatat dan memeriksanya dengan
seksama di penghujung hari tersebut, ia akan melihat betapa sia-sianya
kebanyakan dari apa yang telah ia pikirkan. Andaikata ia menemukan sebagian
dari padanya bermanfaat, maka boleh jadi ia tertipu. Sebab secara keseluruhan,
pikiran-pikiran yang menurutnya benar adakalanya ternyata tidak akan
mendatangkan keuntungan sedikitpun di akhirat.
Seperti halnya membuang waktu dengan melakukan pekerjaan
yang sia-sia dalam kehidupan sehari-hari, manusia adakalanya pula menghabiskan
waktunya secara sia-sia dengan terbawa oleh pikiran-pikiran yang tidak
bermanfaat. Sebab pikiran-pikiran yang tidak terkendali akan terus-menerus
mengalir dalam benak seseorang. Seseorang dengan sadar mengalihkan pikirannya dari
satu hal ke hal lain. Ketika sedang dalam perjalanan pulang ke rumah, seseorang
memikirkan rencana untuk berbelanja. Mendadak kemudian ia berpikir tentang hal
lain, yakni apa-apa yang pernah dikatakan temannya satu atau dua tahun yang
lalu. Pikiran yang tidak terkontrol dan tidak berguna ini dapat berlangsung
terus-menerus sepanjang hari. Padahal, yang kuasa mengontrol pikiran-pikiran
tersebut adalah dirinya sendiri. Setiap orang memiliki kemampuan untuk
memikirkan sesuatu yang dapat memperbaiki keadaan dirinya; meningkatkan
keimanan, kemampuan berpikir, perilaku; serta memperbaiki keadaan
sekelilingnya.
SUMBER-SUMBER
PENGETAHUAN (konsepsi dan sumber pokoknya)
1. Teori Plato tentang
Pengingatan Kembali
Teori ini berpendapat bahwa pengetahuan
adalah fungsi mengingat kembali informasi-informasi (pengetahuan) yang telah
lebih dulu diperoleh. Dan bahwa segala sesuatu telah menjadi pengetahuan bagi
manusia, namun dalam proses untuk menghadirkan pengetahuan tersebut haruslah
ada objek realitas yang kemudian memotivasi akal manusia untuk menghadirkannya
lebih spesifik melalui proses berpikir karena semua telah dimiliki oleh
manusia.
Doktrin
Pengingatan kembali :
Sebuah pengetahuan
akan memiliki nilai kebenaran, ketikan pengetahuan tersebut dapat diproses
kembali berdasarkan objek realitas dengan menggali kembali nilai fitrahwai
pengetahuan yang dimiliki manusia.
2. Teori Rasional
Menurut teori ini ada 2 sumber bagi
konsepsi pengetahuan, yaitu :
Ø Penginderaan
(sensasi), misalnya kita mengkonsepsikan tentang panas, cahaya, rasa dan suara
karena penginderaan kita terhadap semua
itu.
Ø Fitrah,
dalam arti bahwa akal manusia memiliki pengertian-pengertian dan
konsepsi-konsepsi yang tidak muncul dari penginderaan, tetapi ia sudah ada
dalam bentuk fitrah (menurut Rene Descartes itulah yang disebut ide)
Indera menurut teori ini, adalah
sumber pemahaman terhadap konsepsi-konsepsi dan gagasan-gagasan sederhana,
tetapi ia bukan satu-satunya sumber dari pengetahuan melainkan juga ada fitrah
yang mendorong munculnya sekumpulan konsepsi dalam akal (alam ide).
Alasan yang mengharuskan kaum
rasionalis menganut teori tersebut adalah dalam menjelaskan konsepsi-konsepsi
manusia karena mereka tidak mendapatkan alas an munculnya sejumlah gagasan dan
konsepsi dari indera karena ia bukan konsepsi inderawi maka ia harus digali
secara esensial dengan pendekatan fitrahwi
Doktrin Teori
Rasional :
Sebuah pengetahuan
akan memiliki nilai kebenaran, ketikan pengetahuan tersebut dapat diterima oleh
akal melalui proses fitrahwi manusia.
3. Teori Empirikal
Menurut teori ini penginderaan adalah
satu-satunya yang membekali akal manusia dengan konsepsi-konsepsi dan
gagasan-gagasan, dan (bahwa potensi mental akal) adalah potensi yang
tercerminkan dalam berbagai persepsi inderawi. Jadi ketika kita menginderai
sesuatu, maka kita dapat memiliki suatu konsepsi tentangnya yakni menangkap
form dari sesuatu itu dalam akal kita.
Posisi
akal dalam teori ini hanya sebatas mengelolah konsepsi-konsepsi gagasan
inderawi, misalnya dengan memisahkan sifat dari suatu bentuk realitas dengan
abstraksi dan universalisasi
Doktrin Teori
Empirikal :
Sebuah pengetahuan
akan memiliki nilai kebenaran, ketikan pengetahuan tersebut dapat inderawi oleh
manusia.
4. Teori Disposesi
Teori
ini secara umum, adalah teori para filosof muslim. Ia terangkum dalam pembagian
konsepsi-konsepsi mental menjadi 2 bagian, yaitu konsepsi primer dan konsepsi
sekunder. Konsep ini adalah dasar konseptual bagi akal manusia. Ini lahir dari
proses inderawi secara langsung terhadap kandungannya. Misalnya kita mengkonsepsikan
panas, karena kita mempersepsikannya dengan indera peraba atau kita
mengkonsepsikan warna karena kita mempersepsikannya dengan indera penglihatan
dan lain sebagainya. Persepsi indera terhadap itu semua adalah sebab
pengkonsepsiannya dan sebab adanya ide tentangnya di alam akal manusia. Dari
ide-ide itu, terbentuklah kaidah pertama (primer) bagi konsepsi. Dan
berdasarkan kaidah itu, akal memunculkan konsepsi-konsepsi sekunder (turunan)
Doktrin Teori
Dipsosesi :
Sebuah pengetahuan
akan memiliki nilai kebenaran, ketikan adanya korelasi objek nilai pengetahuan
(realitas) melalui proses inderawi dan pengetahuan fitrahwi manusia.
Share This :
Posted by 
comment 0 Comment
more_vert